Blog ini berisi info koperasi,koleksi Artikel Pendidikan, Kesehatan, Iptek dan Sosial Bdaya
Rabu, 15 Desember 2010
Koperasi SMPN 22 Ingin Memiliki Minimarket
Saya bercita-cita ingin Koperasi SMPN 22 seperti SMKN 3 Bandung, mempunyai Minimarket
Keterangan :
Gambar di atas adalah salah satu contoh sebuah sekolah SMKN 3 Bandung yang berhasil mengembangkan sayapnya dalam mengelola koperasi yaitu dengan menggandeng Ritel Besar seperti Alfamart. Saya yang dipercaya untuk mengelola Koperasi SMPN 22 sebagai Seksi Usaha ingin sekali mengembangkan usaha dalam ritel itu. Ide ini terpendam sejak tahun 2005 (sejak jadi pengurus koperasi), kita punya lokasi sekolah yang sangat strategis mengapa tidak kita mamfaatkan saja untuk kesejahteraan bersama...!.
Saya mulai tahun 2005 mencanangkan dua program besar :
1. Piknik ke Bali guru-guru dan keluarga
2. Membuat Minimarket dengan kerjasama dengan Alfamart dll.
Program ke satu telah sukses dilaksanakan tgl 22 sd 28 Desember 2008 piknik ke Bali, Bromo dan jogyakarta dengan gratis bagi anggota koperasi. Atas dasar pemikiran yang diatas mungkinkah program yang ke dua bisa terwujud....?. Rasanya seperti sudah dipelupuk mata tinggal ada kesepakatan dan kemauan dari pihak pimpinan juga tidak kalah pentingnya adalah "kepercayaan" dari pihak Guru-guru dan Karyawan yang sebagai anggota koperasi terhadap saya untuk mengelola dan mengembangkan koperasi ini sehinga menjadi besar .
Kepada semua pihak saya mohon tanggapan dan masukan atas ide-ide saya ini.
Terimakasih dan salam
Sesi Usaha Koperasi SMPN 22
Sunyana
Sabtu, 27 November 2010
Diabetes Jangan Ditunggu Bergejala
Kompas.com — Tidak sedikit penderita diabetes melitus yang terkejut ketika dinyatakan mereka mengidap diabetes karena mereka sama sekali tak merasakan adanya gejala. Diabetes berkembang secara bertahap dan tidak selalu memperlihatkan gejala. Sekalipun ada, biasanya hanya beberapa tanda. Ini umumnya terjadi pada diabetes tipe dua.
Dua gejala klasik yang sering dialami penderita diabetes adalah rasa haus dan lapar yang meningkat, serta seringnya hasrat buang air kecil. Ketika kadar gula dalam darah tinggi, ginjal tidak lagi sanggup menyerap kembali semua gula darah yang tersaring itu. Gula yang bersirkulasi itu akan membawa air yang berasal dari jaringan tubuh. Akibatnya, orang tersebut akan merasa kehausan.
Orang yang menderita diabetes juga sering merasa kelaparan. "Ini terjadi karena gula darah tidak bisa masuk ke dalam sel, akibatnya sel-sel akan mengirim sinyal lapar ke otak. Orang yang bersangkutan kekurangan energi dan merasa lemas," papar dr Aris Wibudi, SpPD, KEMD, ahli diabetes dari RSPAD Gatot Soebroto Jakarta, dalam acara media edukasi "Nutrisi Seimbang untuk Cegah dan Atasi Diabetes" yang diadakan oleh Nutrifood di Jakarta, Selasa (11/5/2010).
Gejala lain dari diabetes yang juga sering muncul adalah turunnya berat badan dengan penyebab yang tidak jelas, rasa kesemutan, gusi merah, bengkak dan sensitif, pandangan jadi kabur, rasa seperti terkena flu, dan sebagainya. Namun, dr Aris mengingatkan bahwa diabetes lebih sering tidak bergejala.
Itu sebabnya kita perlu melakukan pemeriksaan gula darah di awal usia 30 tahun, terutama untuk mereka yang termasuk dalam kelompok risiko tinggi, yakni memiliki riwayat keluarga menderita diabetes, gemuk, dan berusia di atas 30 tahun.
"Jangan tunggu sampai ada gejala baru periksa karena itu sudah terlambat enam tahun. Apalagi kalau sudah sampai merasa sering kesemutan, Anda sudah terlambat 10 tahun," papar dr Aris.
Kadar gula darah yang tinggi merupakan kondisi yang serius. Namun, jika dikenali secara dini, biasanya komplikasi bisa dihindari. "Intervensi dan perubahan gaya hidup lewat pengaturan pola makan dan akivitas fisik bisa mencegah perburukan penyakit," paparnya. Kalau begitu, jangan tunggu besok. Lakukan pemeriksaan gula darah mulai sekarang
Dua gejala klasik yang sering dialami penderita diabetes adalah rasa haus dan lapar yang meningkat, serta seringnya hasrat buang air kecil. Ketika kadar gula dalam darah tinggi, ginjal tidak lagi sanggup menyerap kembali semua gula darah yang tersaring itu. Gula yang bersirkulasi itu akan membawa air yang berasal dari jaringan tubuh. Akibatnya, orang tersebut akan merasa kehausan.
Orang yang menderita diabetes juga sering merasa kelaparan. "Ini terjadi karena gula darah tidak bisa masuk ke dalam sel, akibatnya sel-sel akan mengirim sinyal lapar ke otak. Orang yang bersangkutan kekurangan energi dan merasa lemas," papar dr Aris Wibudi, SpPD, KEMD, ahli diabetes dari RSPAD Gatot Soebroto Jakarta, dalam acara media edukasi "Nutrisi Seimbang untuk Cegah dan Atasi Diabetes" yang diadakan oleh Nutrifood di Jakarta, Selasa (11/5/2010).
Gejala lain dari diabetes yang juga sering muncul adalah turunnya berat badan dengan penyebab yang tidak jelas, rasa kesemutan, gusi merah, bengkak dan sensitif, pandangan jadi kabur, rasa seperti terkena flu, dan sebagainya. Namun, dr Aris mengingatkan bahwa diabetes lebih sering tidak bergejala.
Itu sebabnya kita perlu melakukan pemeriksaan gula darah di awal usia 30 tahun, terutama untuk mereka yang termasuk dalam kelompok risiko tinggi, yakni memiliki riwayat keluarga menderita diabetes, gemuk, dan berusia di atas 30 tahun.
"Jangan tunggu sampai ada gejala baru periksa karena itu sudah terlambat enam tahun. Apalagi kalau sudah sampai merasa sering kesemutan, Anda sudah terlambat 10 tahun," papar dr Aris.
Kadar gula darah yang tinggi merupakan kondisi yang serius. Namun, jika dikenali secara dini, biasanya komplikasi bisa dihindari. "Intervensi dan perubahan gaya hidup lewat pengaturan pola makan dan akivitas fisik bisa mencegah perburukan penyakit," paparnya. Kalau begitu, jangan tunggu besok. Lakukan pemeriksaan gula darah mulai sekarang
Diabetes Jangan Dtitunggu Bergejala
Kompas.com — Tidak sedikit penderita diabetes melitus yang terkejut ketika dinyatakan mereka mengidap diabetes karena mereka sama sekali tak merasakan adanya gejala. Diabetes berkembang secara bertahap dan tidak selalu memperlihatkan gejala. Sekalipun ada, biasanya hanya beberapa tanda. Ini umumnya terjadi pada diabetes tipe dua.
Dua gejala klasik yang sering dialami penderita diabetes adalah rasa haus dan lapar yang meningkat, serta seringnya hasrat buang air kecil. Ketika kadar gula dalam darah tinggi, ginjal tidak lagi sanggup menyerap kembali semua gula darah yang tersaring itu. Gula yang bersirkulasi itu akan membawa air yang berasal dari jaringan tubuh. Akibatnya, orang tersebut akan merasa kehausan.
Orang yang menderita diabetes juga sering merasa kelaparan. "Ini terjadi karena gula darah tidak bisa masuk ke dalam sel, akibatnya sel-sel akan mengirim sinyal lapar ke otak. Orang yang bersangkutan kekurangan energi dan merasa lemas," papar dr Aris Wibudi, SpPD, KEMD, ahli diabetes dari RSPAD Gatot Soebroto Jakarta, dalam acara media edukasi "Nutrisi Seimbang untuk Cegah dan Atasi Diabetes" yang diadakan oleh Nutrifood di Jakarta, Selasa (11/5/2010).
Gejala lain dari diabetes yang juga sering muncul adalah turunnya berat badan dengan penyebab yang tidak jelas, rasa kesemutan, gusi merah, bengkak dan sensitif, pandangan jadi kabur, rasa seperti terkena flu, dan sebagainya. Namun, dr Aris mengingatkan bahwa diabetes lebih sering tidak bergejala.
Itu sebabnya kita perlu melakukan pemeriksaan gula darah di awal usia 30 tahun, terutama untuk mereka yang termasuk dalam kelompok risiko tinggi, yakni memiliki riwayat keluarga menderita diabetes, gemuk, dan berusia di atas 30 tahun.
"Jangan tunggu sampai ada gejala baru periksa karena itu sudah terlambat enam tahun. Apalagi kalau sudah sampai merasa sering kesemutan, Anda sudah terlambat 10 tahun," papar dr Aris.
Kadar gula darah yang tinggi merupakan kondisi yang serius. Namun, jika dikenali secara dini, biasanya komplikasi bisa dihindari. "Intervensi dan perubahan gaya hidup lewat pengaturan pola makan dan akivitas fisik bisa mencegah perburukan penyakit," paparnya. Kalau begitu, jangan tunggu besok. Lakukan pemeriksaan gula darah mulai sekarang.
Dua gejala klasik yang sering dialami penderita diabetes adalah rasa haus dan lapar yang meningkat, serta seringnya hasrat buang air kecil. Ketika kadar gula dalam darah tinggi, ginjal tidak lagi sanggup menyerap kembali semua gula darah yang tersaring itu. Gula yang bersirkulasi itu akan membawa air yang berasal dari jaringan tubuh. Akibatnya, orang tersebut akan merasa kehausan.
Orang yang menderita diabetes juga sering merasa kelaparan. "Ini terjadi karena gula darah tidak bisa masuk ke dalam sel, akibatnya sel-sel akan mengirim sinyal lapar ke otak. Orang yang bersangkutan kekurangan energi dan merasa lemas," papar dr Aris Wibudi, SpPD, KEMD, ahli diabetes dari RSPAD Gatot Soebroto Jakarta, dalam acara media edukasi "Nutrisi Seimbang untuk Cegah dan Atasi Diabetes" yang diadakan oleh Nutrifood di Jakarta, Selasa (11/5/2010).
Gejala lain dari diabetes yang juga sering muncul adalah turunnya berat badan dengan penyebab yang tidak jelas, rasa kesemutan, gusi merah, bengkak dan sensitif, pandangan jadi kabur, rasa seperti terkena flu, dan sebagainya. Namun, dr Aris mengingatkan bahwa diabetes lebih sering tidak bergejala.
Itu sebabnya kita perlu melakukan pemeriksaan gula darah di awal usia 30 tahun, terutama untuk mereka yang termasuk dalam kelompok risiko tinggi, yakni memiliki riwayat keluarga menderita diabetes, gemuk, dan berusia di atas 30 tahun.
"Jangan tunggu sampai ada gejala baru periksa karena itu sudah terlambat enam tahun. Apalagi kalau sudah sampai merasa sering kesemutan, Anda sudah terlambat 10 tahun," papar dr Aris.
Kadar gula darah yang tinggi merupakan kondisi yang serius. Namun, jika dikenali secara dini, biasanya komplikasi bisa dihindari. "Intervensi dan perubahan gaya hidup lewat pengaturan pola makan dan akivitas fisik bisa mencegah perburukan penyakit," paparnya. Kalau begitu, jangan tunggu besok. Lakukan pemeriksaan gula darah mulai sekarang.
Kebiasaan Kecil Pemicu Diabetes
0 Kebiasaan Kecil Pemicu Diabetes
Kamis, 26 Februari 2009 | 16:10 WIB
tpgimages
Makanan dan minuman yang dapat memicu diabetes.
Dalam hidup ini berlaku hukum "tabungan". Apa yang kita lakukan menjadi tabungan di masa mendatang. Apa yang kita tabung sedikit demi sedikit akan terasa hasilnya bertahun-tahun kemudian. Begitu pun dengan penyakit. Mulai dari segelas minuman favorit hingga suka menonton TV hingga larut. Siapa nyana kalau itu bisa meningkatkan risiko diabetes?
1. Teh manis
Penjelasannya sederhana. Tingginya asupan gula menyebabkan kadar gula darah melonjak tinggi. Belum risiko kelebihan kalori. Segelas teh manis kira-kira mengandung 250-300 kalori (tergantung kepekatan). Kebutuhan kalori wanita dewasa rata-rata adalah 1.900 kalori per hari (tergantung aktivitas). Dari teh manis saja kita sudah dapat 1.000-1.200 kalori. Belum ditambah tiga kali makan nasi beserta lauk pauk. Patut diduga kalau setiap hari kita kelebihan kalori. Ujungnya: obesitas dan diabetes.
Pengganti: Air putih, teh tanpa gula, atau batasi konsumsi gula tidak lebih dari dua sendok teh sehari.
2. Gorengan
Karena bentuknya kecil, satu gorengan tidak cukup buat kita. Padahal gorengan adalah salah satu faktor risiko tinggi pemicu penyakit degeneratif, seperti kardiovaskular, diabetes melitus, dan stroke. Penyebab utama penyakit kardiovaskular (PKV) adalah adanya penyumbatan pembuluh darah koroner, dengan salah satu faktor risiko utamanya adalah dislipidemia. Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol total, LDL (kolesterol jahat) dan trigliserida, serta penurunan kadar HDL (kolesterol baik) dalam darah. Meningkatnya proporsi dislipidemia di masyarakat disebabkan kebiasaan mengonsumsi berbagai makanan rendah serat dan tinggi lemak, termasuk gorengan.
Pengganti: Kacang Jepang, atau pie buah.
3. Suka ngemil
Kita mengira dengan membatasi makan siang atau malam bisa menghindarkan diri dari obesitas dan diabetes. Karena belum kenyang, perut diisi dengan sepotong atau dua potong camilan seperti biskuit dan keripik kentang. Padahal, biskuit, keripik kentang, dan kue-kue manis lainnya mengandung hidrat arang tinggi tanpa kandungan serta pangan yang memadai. Semua makanan itu digolongkan dalam makanan dengan glikemik indeks tinggi. Sementara itu, gula dan tepung yang terkandung di dalamnya mempunyai peranan dalam menaikkan kadar gula dalam darah.
Pengganti: Buah potong segar.
4. Kurang tidur.
Jika kualitas tidur tidak didapat, metabolisme jadi terganggu. Hasil riset para ahli dari University of Chicago mengungkapkan, kurang tidur selama 3 hari mengakibatkan kemampuan tubuh memproses glukosa menurun drastis. Artinya, risiko diabetes meningkat. Kurang tidur juga dapat merangsang sejenis hormon dalam darah yang memicu nafsu makan. Didorong rasa lapar, penderita gangguan tidur terpicu menyantap makanan berkalori tinggi yang membuat kadar gula darah naik.
Solusi: Tidur tidak kurang dari 6 jam sehari, atau sebaiknya 8 jam sehari.
5. Malas beraktivitas fisik
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, kasus diabetes di negara-negara Asia akan naik hingga 90 persen dalam 20 tahun ke depan. "Dalam 10 tahun belakangan, jumlah penderita diabetes di Hanoi, Vietnam, berlipat ganda. Sebabnya? Di kota ini, masyarakatnya lebih memilih naik motor dibanding bersepeda," kata Dr Gauden Galea, Penasihat WHO untuk Penyakit Tidak Menular di Kawasan Pasifik Barat.
Kesimpulannya, mereka yang sedikit aktivitas fisik memiliki risiko obesitas lebih tinggi dibanding mereka yang rajin bersepeda, jalan kaki, atau aktivitas lainnya.
Solusi: Bersepeda ke kantor.
6. Sering stres
Stres sama seperti banjir, harus dialirkan agar tidak terjadi banjir besar. Saat stres datang, tubuh akan meningkatkan produksi hormon epinephrine dan kortisol supaya gula darah naik dan ada cadangan energi untuk beraktivitas. Tubuh kita memang dirancang sedemikian rupa untuk maksud yang baik. Namun, kalau gula darah terus dipicu tinggi karena stres berkepanjangan tanpa jalan keluar, sama saja dengan bunuh diri pelan-pelan.
Solusi: Bicaralah pada orang yang dianggap bermasalah, atau ceritakan pada sahabat terdekat.
7. Kecanduan rokok
Sebuah penelitian di Amerika yang melibatkan 4.572 relawan pria dan wanita menemukan bahwa risiko perokok aktif terhadap diabetes naik sebesar 22 persen. Disebutkan pula bahwa naiknya risiko tidak cuma disebabkan oleh rokok, tetapi kombinasi berbagai gaya hidup tidak sehat, seperti pola makan dan olahraga.
Pengganti: Permen bebas gula. Cara yang lebih progresif adalah mengikuti hipnoterapi. Pilihlah ahli hipnoterapi yang sudah berpengalaman dan bersertifikat resmi.
8. Menggunakan pil kontrasepsi
Kebanyakan pil kontrasepsi terbuat dari kombinasi hormon estrogen dan progestin, atau progestin saja. Pil kombinasi sering menyebabkan perubahan kadar gula darah. Menurut dr Dyah Purnamasari S, Sp PD, dari Divisi Metabolik Endokrinologi RSCM, kerja hormon pil kontrasepsi berlawanan dengan kerja insulin. Karena kerja insulin dilawan, pankreas dipaksa bekerja lebih keras untuk memproduksi insulin. Jika terlalu lama dibiarkan, pankreas menjadi letih dan tidak berfungsi dengan baik.
Solusi: Batasi waktu penggunaan pil-pil hormonal, jangan lebih dari 5 tahun.
9. Takut kulit jadi hitam
Menurut jurnal Diabetes Care, wanita dengan asupan tinggi vitamin D dan kalsium berisiko paling rendah terkena diabetes tipe 2. Selain dari makanan, sumber vitamin D terbaik ada di sinar matahari. Dua puluh menit paparan sinar matahari pagi sudah mencukupi kebutuhan vitamin D selama tiga hari. Beberapa penelitian terbaru, di antaranya yang diterbitkan oleh American Journal of Epidemiology, menyebutkan bahwa vitamin D juga membantu keteraturan metabolisme tubuh, termasuk gula darah.
Solusi: Gunakan krim tabir surya sebelum "berjemur" di bawah sinar matahari pagi selama 10-15 menit.
10. Keranjingan soda
Dari penelitian yang dilakukan oleh The Nurses' Health Study II terhadap 51.603 wanita usia 22-44 tahun, ditemukan bahwa peningkatan konsumsi minuman bersoda membuat berat badan dan risiko diabetes melambung tinggi. Para peneliti mengatakan, kenaikan risiko itu terjadi karena kandungan pemanis yang ada dalam minuman bersoda. Selain itu, asupan kalori cair tidak membuat kita kenyang sehingga terdorong untuk minum lebih banyak.
Pengganti: Jus dingin tanpa gula.*
1. Teh manis
Penjelasannya sederhana. Tingginya asupan gula menyebabkan kadar gula darah melonjak tinggi. Belum risiko kelebihan kalori. Segelas teh manis kira-kira mengandung 250-300 kalori (tergantung kepekatan). Kebutuhan kalori wanita dewasa rata-rata adalah 1.900 kalori per hari (tergantung aktivitas). Dari teh manis saja kita sudah dapat 1.000-1.200 kalori. Belum ditambah tiga kali makan nasi beserta lauk pauk. Patut diduga kalau setiap hari kita kelebihan kalori. Ujungnya: obesitas dan diabetes.
Pengganti: Air putih, teh tanpa gula, atau batasi konsumsi gula tidak lebih dari dua sendok teh sehari.
2. Gorengan
Karena bentuknya kecil, satu gorengan tidak cukup buat kita. Padahal gorengan adalah salah satu faktor risiko tinggi pemicu penyakit degeneratif, seperti kardiovaskular, diabetes melitus, dan stroke. Penyebab utama penyakit kardiovaskular (PKV) adalah adanya penyumbatan pembuluh darah koroner, dengan salah satu faktor risiko utamanya adalah dislipidemia. Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol total, LDL (kolesterol jahat) dan trigliserida, serta penurunan kadar HDL (kolesterol baik) dalam darah. Meningkatnya proporsi dislipidemia di masyarakat disebabkan kebiasaan mengonsumsi berbagai makanan rendah serat dan tinggi lemak, termasuk gorengan.
Pengganti: Kacang Jepang, atau pie buah.
3. Suka ngemil
Kita mengira dengan membatasi makan siang atau malam bisa menghindarkan diri dari obesitas dan diabetes. Karena belum kenyang, perut diisi dengan sepotong atau dua potong camilan seperti biskuit dan keripik kentang. Padahal, biskuit, keripik kentang, dan kue-kue manis lainnya mengandung hidrat arang tinggi tanpa kandungan serta pangan yang memadai. Semua makanan itu digolongkan dalam makanan dengan glikemik indeks tinggi. Sementara itu, gula dan tepung yang terkandung di dalamnya mempunyai peranan dalam menaikkan kadar gula dalam darah.
Pengganti: Buah potong segar.
4. Kurang tidur.
Jika kualitas tidur tidak didapat, metabolisme jadi terganggu. Hasil riset para ahli dari University of Chicago mengungkapkan, kurang tidur selama 3 hari mengakibatkan kemampuan tubuh memproses glukosa menurun drastis. Artinya, risiko diabetes meningkat. Kurang tidur juga dapat merangsang sejenis hormon dalam darah yang memicu nafsu makan. Didorong rasa lapar, penderita gangguan tidur terpicu menyantap makanan berkalori tinggi yang membuat kadar gula darah naik.
Solusi: Tidur tidak kurang dari 6 jam sehari, atau sebaiknya 8 jam sehari.
5. Malas beraktivitas fisik
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, kasus diabetes di negara-negara Asia akan naik hingga 90 persen dalam 20 tahun ke depan. "Dalam 10 tahun belakangan, jumlah penderita diabetes di Hanoi, Vietnam, berlipat ganda. Sebabnya? Di kota ini, masyarakatnya lebih memilih naik motor dibanding bersepeda," kata Dr Gauden Galea, Penasihat WHO untuk Penyakit Tidak Menular di Kawasan Pasifik Barat.
Kesimpulannya, mereka yang sedikit aktivitas fisik memiliki risiko obesitas lebih tinggi dibanding mereka yang rajin bersepeda, jalan kaki, atau aktivitas lainnya.
Solusi: Bersepeda ke kantor.
6. Sering stres
Stres sama seperti banjir, harus dialirkan agar tidak terjadi banjir besar. Saat stres datang, tubuh akan meningkatkan produksi hormon epinephrine dan kortisol supaya gula darah naik dan ada cadangan energi untuk beraktivitas. Tubuh kita memang dirancang sedemikian rupa untuk maksud yang baik. Namun, kalau gula darah terus dipicu tinggi karena stres berkepanjangan tanpa jalan keluar, sama saja dengan bunuh diri pelan-pelan.
Solusi: Bicaralah pada orang yang dianggap bermasalah, atau ceritakan pada sahabat terdekat.
7. Kecanduan rokok
Sebuah penelitian di Amerika yang melibatkan 4.572 relawan pria dan wanita menemukan bahwa risiko perokok aktif terhadap diabetes naik sebesar 22 persen. Disebutkan pula bahwa naiknya risiko tidak cuma disebabkan oleh rokok, tetapi kombinasi berbagai gaya hidup tidak sehat, seperti pola makan dan olahraga.
Pengganti: Permen bebas gula. Cara yang lebih progresif adalah mengikuti hipnoterapi. Pilihlah ahli hipnoterapi yang sudah berpengalaman dan bersertifikat resmi.
8. Menggunakan pil kontrasepsi
Kebanyakan pil kontrasepsi terbuat dari kombinasi hormon estrogen dan progestin, atau progestin saja. Pil kombinasi sering menyebabkan perubahan kadar gula darah. Menurut dr Dyah Purnamasari S, Sp PD, dari Divisi Metabolik Endokrinologi RSCM, kerja hormon pil kontrasepsi berlawanan dengan kerja insulin. Karena kerja insulin dilawan, pankreas dipaksa bekerja lebih keras untuk memproduksi insulin. Jika terlalu lama dibiarkan, pankreas menjadi letih dan tidak berfungsi dengan baik.
Solusi: Batasi waktu penggunaan pil-pil hormonal, jangan lebih dari 5 tahun.
9. Takut kulit jadi hitam
Menurut jurnal Diabetes Care, wanita dengan asupan tinggi vitamin D dan kalsium berisiko paling rendah terkena diabetes tipe 2. Selain dari makanan, sumber vitamin D terbaik ada di sinar matahari. Dua puluh menit paparan sinar matahari pagi sudah mencukupi kebutuhan vitamin D selama tiga hari. Beberapa penelitian terbaru, di antaranya yang diterbitkan oleh American Journal of Epidemiology, menyebutkan bahwa vitamin D juga membantu keteraturan metabolisme tubuh, termasuk gula darah.
Solusi: Gunakan krim tabir surya sebelum "berjemur" di bawah sinar matahari pagi selama 10-15 menit.
10. Keranjingan soda
Dari penelitian yang dilakukan oleh The Nurses' Health Study II terhadap 51.603 wanita usia 22-44 tahun, ditemukan bahwa peningkatan konsumsi minuman bersoda membuat berat badan dan risiko diabetes melambung tinggi. Para peneliti mengatakan, kenaikan risiko itu terjadi karena kandungan pemanis yang ada dalam minuman bersoda. Selain itu, asupan kalori cair tidak membuat kita kenyang sehingga terdorong untuk minum lebih banyak.
Pengganti: Jus dingin tanpa gula.*
Sabtu, 25 September 2010
Susu kedelai bantu kendalikan diabetes
Susu Kedelai Bantu Kendalikan Diabetes
Sebenarnya ada dua perbedaan yang mendasar pada penyakit diabetes.
Yang pertama adalah Diabetes yang tergantung / disebabkan oleh insulin (insulin dependent diabetes mellitus / IDDM), dan yang kedua Diabetes yang tidak tergantung / tidak disebabkan oleh insulin (non-insulin dependent diabetes mellitus /NIDDM).
Diabetes karena insulin
Diabetes jenis ini menyerang pada anak-anak / usia muda.
Diabetes ini disebabkan karena penderitanya tidak cukup untuk menghasilkan hormon insulin, bahkan ada yang samasekali tidak dapat menghasilkan hormon insulin.
Insulin diperlukan untuk mengangkut gula darah, atau glukosa ke dalam sel-sel tubuh.
Jadi, tanpa insulin glukosa akan terbentuk dalam aliran darah, sehingga kadar gula darah tinggi. Dan biasanya diperlukan suntikan insulin untuk mengatasinya.
Diabetes bukan karena insulin
Diabetes jenis ini adalah yang menyerang orang dewasa, di mana pada usia ini produksi hormon insulin bervariasi.
Kebanyakan kasus yang terjadi adalah karena sel-sel tubuh sudah tidak peka lagi, sehingga menyebabkan perpindahan / penyerapan glukosa ke dalam sel terhambat, atau bahkan tidak terjadi samasekali.
Diabetes jenis ini tidak memerlukan suntikan insulin, tetapi dengan cara diet dan olah raga.
Insulin terlibat dalam berbagai proses dalam tubuh. Kadar gula darah yang tinggi dapat mengakibatkan kerusakan berbagai organ tubuh dan jaringan. Kadar gula darah yang tinggi berisiko terjadinya asteroklerosis (astheroclerosis) yaitu terbentuknya plak dalam dinding pembuluh darah yang dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Diabetes juga dapat menyebabkan penyakit jantung, kerusakan syaraf, ginjal, organ reproduksi, mata dan limpa. Sehingga mengontrol diabetes adalah sangat penting.
Kedelai untuk diet penderita Diabetes
Makanan (diet) yang paling baik untuk diabetes adalah rendah lemak, tinggi karbohidrat komplek (tepung dan serat), dan kadar protein menengah.
Tidak ada satupun makanan dan diet yang akan sesuai dengan penderita diabetes. Tetapi kedelai (makanan dari kedelai, susu kedelai misalnya) punya peranan yang menarik dalam diabetes dengan 2 cara :
1. Kedelai dapat memperlambat penyerapan glukosa ke dalam aliran darah,
2. Kadar protein dalam kedelai dapat membantu mencegah atau mengendalikan beberapa akibat (komplikasi) dari diabetes, seperti aterosklerosis (atherosclerosis) dan penyakit ginjal.
Silakan baca juga : Keunggulan Susu Kedelai Melilea …..
Referensi : www.mnsoybean.org, www.pedulikolesterol.com
Protein Kedelai untuk Diet Penyakit Ginjal
Penderita penyakit ginjal disarankan untuk makan makanan berkadar protein rendah. Asupan jumlah protein yang disarankan sekitar 50 gram per hari, ini membantu membatasi jumlah fosfor, karena fosfor banyak terdapat pada protein. Fosfor adalah zat mineral yang dapat memperburuk ginjal.Selain protein, yang perlu dijaga juga adalah kolesterol, harus tetap dengan makanan rendah kolesterol.
Makanan yang berasal dari kedelai berperan dalam penyembuhan penyakit ginjal, karena protein dari kedelai tidak berpengaruh buruk pada ginjal, tidak seperti protein hewani. Oleh karenanya para ahli gizi menyarankan konsumsi lebih banyak makanan dari kedelai. Memang masih perlu penelitian yang lebih mendalam tentang hubungan protein kedelai dengan ginjal, tetapi penelitian yang ada telah membuktikan tidak ada kerugian / keburukan pemberian protein kedelai bagi penderita penyakit ginjal. Protein kedelai membantu menurunkan kadar kolesterol.
Penderita diabetes juga berisiko tinggi terhadap penyakit ginjal. Sering terjadi pada penderita peyakit ginjal perlu mengurangi asupan protein karena asupan protein yang tinggi dapat memperburuk kerja ginjal. Menambah asupan protein kedelai dan mengurangi protein hewani terbukti, pada beberapa kasus sangat membantu dalam meningkatkan kerja ginjal pada pasien.
Ginjal adalah kumpulan dari saringan-saringan (filter) mini yang bekerja menyaring darah dari kandungan zat-zat kimia yang tidak diperlukan tubuh dan mengeluarkan melalui urin.
Diet protein berpengaruh pada ginjal yang sehat maupun ginjal yang sakit. Pada ginjal yang sehat, protein tinggi menyebabkan ginjal bekerja menyaring darah lebih cepat, ini menandakan bahwa ginjal bekerja lebih berat. Dan pada orang yang mempunyai gejala penyakit ginjal, dalam jangka panjang hal ini dapat merusak ginjal.
grabbed from melileasehat.wordpress.com
Sebenarnya ada dua perbedaan yang mendasar pada penyakit diabetes.
Yang pertama adalah Diabetes yang tergantung / disebabkan oleh insulin (insulin dependent diabetes mellitus / IDDM), dan yang kedua Diabetes yang tidak tergantung / tidak disebabkan oleh insulin (non-insulin dependent diabetes mellitus /NIDDM).
Diabetes karena insulin
Diabetes jenis ini menyerang pada anak-anak / usia muda.
Diabetes ini disebabkan karena penderitanya tidak cukup untuk menghasilkan hormon insulin, bahkan ada yang samasekali tidak dapat menghasilkan hormon insulin.
Insulin diperlukan untuk mengangkut gula darah, atau glukosa ke dalam sel-sel tubuh.
Jadi, tanpa insulin glukosa akan terbentuk dalam aliran darah, sehingga kadar gula darah tinggi. Dan biasanya diperlukan suntikan insulin untuk mengatasinya.
Diabetes bukan karena insulin
Diabetes jenis ini adalah yang menyerang orang dewasa, di mana pada usia ini produksi hormon insulin bervariasi.
Kebanyakan kasus yang terjadi adalah karena sel-sel tubuh sudah tidak peka lagi, sehingga menyebabkan perpindahan / penyerapan glukosa ke dalam sel terhambat, atau bahkan tidak terjadi samasekali.
Diabetes jenis ini tidak memerlukan suntikan insulin, tetapi dengan cara diet dan olah raga.
Insulin terlibat dalam berbagai proses dalam tubuh. Kadar gula darah yang tinggi dapat mengakibatkan kerusakan berbagai organ tubuh dan jaringan. Kadar gula darah yang tinggi berisiko terjadinya asteroklerosis (astheroclerosis) yaitu terbentuknya plak dalam dinding pembuluh darah yang dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Diabetes juga dapat menyebabkan penyakit jantung, kerusakan syaraf, ginjal, organ reproduksi, mata dan limpa. Sehingga mengontrol diabetes adalah sangat penting.
Kedelai untuk diet penderita Diabetes
Makanan (diet) yang paling baik untuk diabetes adalah rendah lemak, tinggi karbohidrat komplek (tepung dan serat), dan kadar protein menengah.
Tidak ada satupun makanan dan diet yang akan sesuai dengan penderita diabetes. Tetapi kedelai (makanan dari kedelai, susu kedelai misalnya) punya peranan yang menarik dalam diabetes dengan 2 cara :
1. Kedelai dapat memperlambat penyerapan glukosa ke dalam aliran darah,
2. Kadar protein dalam kedelai dapat membantu mencegah atau mengendalikan beberapa akibat (komplikasi) dari diabetes, seperti aterosklerosis (atherosclerosis) dan penyakit ginjal.
Silakan baca juga : Keunggulan Susu Kedelai Melilea …..
Referensi : www.mnsoybean.org, www.pedulikolesterol.com
Protein Kedelai untuk Diet Penyakit Ginjal
Penderita penyakit ginjal disarankan untuk makan makanan berkadar protein rendah. Asupan jumlah protein yang disarankan sekitar 50 gram per hari, ini membantu membatasi jumlah fosfor, karena fosfor banyak terdapat pada protein. Fosfor adalah zat mineral yang dapat memperburuk ginjal.Selain protein, yang perlu dijaga juga adalah kolesterol, harus tetap dengan makanan rendah kolesterol.
Makanan yang berasal dari kedelai berperan dalam penyembuhan penyakit ginjal, karena protein dari kedelai tidak berpengaruh buruk pada ginjal, tidak seperti protein hewani. Oleh karenanya para ahli gizi menyarankan konsumsi lebih banyak makanan dari kedelai. Memang masih perlu penelitian yang lebih mendalam tentang hubungan protein kedelai dengan ginjal, tetapi penelitian yang ada telah membuktikan tidak ada kerugian / keburukan pemberian protein kedelai bagi penderita penyakit ginjal. Protein kedelai membantu menurunkan kadar kolesterol.
Penderita diabetes juga berisiko tinggi terhadap penyakit ginjal. Sering terjadi pada penderita peyakit ginjal perlu mengurangi asupan protein karena asupan protein yang tinggi dapat memperburuk kerja ginjal. Menambah asupan protein kedelai dan mengurangi protein hewani terbukti, pada beberapa kasus sangat membantu dalam meningkatkan kerja ginjal pada pasien.
Ginjal adalah kumpulan dari saringan-saringan (filter) mini yang bekerja menyaring darah dari kandungan zat-zat kimia yang tidak diperlukan tubuh dan mengeluarkan melalui urin.
Diet protein berpengaruh pada ginjal yang sehat maupun ginjal yang sakit. Pada ginjal yang sehat, protein tinggi menyebabkan ginjal bekerja menyaring darah lebih cepat, ini menandakan bahwa ginjal bekerja lebih berat. Dan pada orang yang mempunyai gejala penyakit ginjal, dalam jangka panjang hal ini dapat merusak ginjal.
grabbed from melileasehat.wordpress.com
Langganan:
Postingan (Atom)
